Pagi yang sejuk di hari Minggu, aku dan Bu Fia memutuskan untuk lari pagi menyusuri jalan UPI. Saat itu, untuk pertama kalinya aku mencoba berlari pagi. Walaupun hanya lari kecil, Bu Fia mengajakku berolahraga. Sepanjang jalan, banyak hal yang aku bicarakan dengan Bu Fia, mulai dari cerita tentang anak-anak mengaji, para guru pengajian, hingga kisah pribadi beliau. Beliau menceritakan awal mula membangun tempat mengaji, serta alasannya tetap tinggal di kota penuh kenangan ini, Bandung.
Pertanyaan pertama yang aku ajukan adalah sudah berapa lama Bu Fia tinggal di Bandung. Dari situlah cerita beliau dimulai. Ternyata Bu Fia berasal dari Tasikmalaya. Beliau merupakan lulusan PAI tahun 2000 dengan gelar S.Ag. Setelah lulus, ia kembali mengajar di MI tempatnya dulu melakukan PPL, karena ada lowongan dan kinerjanya saat PPL cukup diandalkan. Sebagai guru muda dan honorer, ia sering diberi banyak tugas, bahkan dipercaya mewakili kepala sekolah dalam rapat-rapat kepala sekolah di kabupaten. Meski begitu, ada kalanya beliau merasa minder karena rekan-rekannya sudah menjadi PNS, sementara dirinya masih honorer.
Untuk menambah penghasilan, Bu Fia pernah membuka jasa penulisan AJB bagi guru-guru di berbagai sekolah. Pada masa itu, semua masih manual, sehingga keberadaan printer milik kakaknya sangat membantu. Dari sanalah beliau mendapatkan pemasukan tambahan. Sosok Bu Fia begitu produktif, hari-harinya dipenuhi berbagai pekerjaan. Tujuannya hanya satu, yaitu menjadi wanita mandiri yang dapat membahagiakan keluarganya.
Suatu ketika, Bu Fia ditawari untuk menjadi PNS dengan membayar biaya 20 juta rupiah pada tahun 2001 (yang mungkin setara dengan sekitar 45 juta rupiah saat ini). Namun beliau menolak, karena selain tidak halal, jaminan menjadi PNS pun belum pasti. Ia memilih jalur tes resmi, namun hasilnya belum membuahkan hasil. Meski demikian, dengan idealismenya, Bu Fia tetap berusaha menjadi sosok wanita karier yang mandiri serta panutan bagi adik-adiknya.
Perjalanan hidup Bu Fia semakin berubah ketika suatu hari ia menghadiri wisuda keponakannya di UPI, jurusan PGSD. Bu Fia diminta mewakili orang tua keponakannya untuk mendampingi prosesi tersebut. Karena ada sepupunya yang tinggal di Bandung, beliau menginap di rumah keluarga itu. Kebetulan sebelumnya sudah ada pembicaraan mengenai perjodohan dengan anak pemilik rumah tempat ia menginap. Maka, malam setelah wisuda, Bu Fia ditanya tentang kesiapannya untuk menikah.
Kala itu, Bu Fia tidak bisa berbuat banyak. Desakan orang tua begitu kuat, apalagi usianya sudah memasuki kepala tiga, sementara di kampung, perempuan dengan usia demikian yang belum menikah dianggap tabu. Laki-laki yang menanyainya itu akhirnya memberanikan diri datang ke Tasikmalaya untuk mengkhitbah Bu Fia.
Dalam hati kecilnya, sebenarnya Bu Fia sudah memiliki seseorang yang dicintai, bahkan menjalin hubungan dengan pria tersebut. Namun, restu orang tua menjadi penghalang. Meski berat, Bu Fia memilih mengakhiri hubungan itu. Ia meyakini ridha orang tua adalah yang utama. Beberapa bulan setelah khitbah, Bu Fia menikah dengan pria asal Bandung tersebut. Hanya tiga hari setelah menikah, ia diboyong ke Bandung untuk memulai kehidupan baru.
Sebelum menikah, pria itu sudah mengatakan bahwa gajinya hanya sekitar 400 ribu rupiah per bulan. Namun Bu Fia tidak mempermasalahkan hal itu, karena ia yakin dapat membantu suaminya dengan bekerja. Setelah menetap di Bandung, Bu Fia mengirimkan surat lamaran ke berbagai sekolah, mulai dari TK hingga SMA. Sayangnya, tidak ada satupun yang menerima. Alasan yang paling menyakitkan adalah ketika ditanya lulusan mana, ia menjawab lulusan PAI UIN, sedangkan sekolah lebih mengutamakan lulusan UPI. Bertahun-tahun melamar, Bu Fia akhirnya lelah dan memilih untuk tinggal di rumah sambil mempersiapkan diri agar bisa segera memiliki keturunan.
Namun satu tahun, dua tahun, bahkan lima tahun berlalu, Bu Fia belum juga dikaruniai anak. Berkali-kali ia memeriksakan diri ke dokter kandungan, hasilnya menunjukkan bahwa tidak ada masalah, bahkan dirinya subur. Pertanyaan “kapan hamil?” yang terus dilontarkan orang-orang membuatnya stress dan depresi. Ia sering menangis di kamar, memohon kepada Tuhan agar segera dikaruniai anak. Bu Fia bahkan menghindari pulang ke Tasikmalaya karena khawatir dengan pertanyaan yang sama dari tetangga dan kerabat.
Ketika usia pernikahan memasuki lima tahun, cobaan itu tetap sama. Namun Allah menghadirkan cerita lain. Seorang bayi laki-laki, anak dari adik iparnya, akhirnya diasuh oleh Bu Fia karena orang tuanya sibuk bekerja. Bu Fia merawatnya dengan sepenuh hati, layaknya anak kandung sendiri. Seiring waktu, anak-anak tetangga pun mulai datang untuk belajar mengaji pada Bu Fia. Dari sanalah, rumah kecilnya diperbesar dan dijadikan tempat mengaji.
Memasuki tahun keempat, anak asuhnya yang diberi nama Haidar ternyata menunjukkan perkembangan yang lebih lambat dibanding anak seusianya. Setelah diperiksa psikolog, Haidar didiagnosis sebagai Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Bu Fia dan keluarganya menerimanya dengan lapang dada. Mereka yakin, Haidar adalah amanah sekaligus hadiah dari Allah.
Ujian demi ujian terus menghampiri keluarga kecil Bu Fia, namun beliau tetap tegar. Kini, Bu Fia fokus mendidik Haidar dan mengasuh anak-anak yang mengaji di rumahnya. Dari sanalah lahir sosok Bu Fia yang kuat, sabar, dan menjadi teladan bagi banyak orang.